Berinternet Sehat tanpa Perundungan

Digitalnote  
Stockvault/Ivan
Stockvault/Ivan

Maraknya perundungan siber di dunia digital, seperti yang terjadi di media sosial, disebabkan rendahnya pemahaman etika dan etiket berinternet. Padahal, perundungan siber memiliki dampak buruk yang sama besarnya dengan perundungan di dunia nyata.

Selain etika dan etiket, cara berinternet yang sehat dan aman dapat mencegah terjadinya perundungan di dunia maya. Hal ini dibahas dalam webinar dengan tema “Stop Perundungan Siber! Jadilah Netizen Yang Bijak”, Rabu (14/9), di Makassar, Sulawesi Selatan.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, Frida Kusumastuti menjelaskan, tak hanya perundungan langsung atau fisik yang membahayakan, perundungan siber juga tidak kalah berbahaya. Perundungan siber bisa dilakukan dengan tindakan menggunakan kata-kata yang menyerang korban, seperti menghina, mengejek, memfitnah, atau pesan ancaman.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Secara sosial, perundungan siber bisa juga dilakukan dengan mengajak orang lain untuk memusuhi korban dan mengecilkannya di lingkungan sosial. Untuk menghindari atau mencegah terjadinya perundungan siber, Frida menyarankan, agar warganet Indonesia aktif mempromosikan sikap saling menghormati dan menghargai di dunia digital.

Karena, perundungan siber mempunyai dampak luar biasa terhadap korban, seperti gangguan psikologis karena malu, rendah diri, cemas, atau ketakutan. Selain itu, korban juga akan mengalami gangguan psikomatik, yaitu jantung berdebar, gemetar, mudah lelah, hingga sesak nafas dan tangan berkeringat.

“Kepada pelaku perundungan, ingat bahwa ada ancaman hukum pidana terhadap pelakunya. Bagi warganet Indonesia, mari kita budayakan memberi dukungan positif, biasakan menyampaikan ucapan selamat dan pujian untuk konten positif yang baik,” ujar Frida.

Menurut Ketua Relawan TIK Provinsi Bali, I Gede Putu Krisna, agar tidak terjadi perundungan di dunia digital, warganet harus memahami apa itu etika dan etiket berinternet. Ia mencontohkan etika berinternet, seperti menghindari penggunaan huruf kapital, memperlakukan surel sebagai pesan pribadi, atau tidak mengirim file berukuran besar tanpa seizin si penerima.

Selain itu, contoh etika berinternet adalah menulis dalam ejaan yang benar dan sopan, menghargai privasi dan karya orang lain, membiasakan mengisi kolom subject surel dalam mengirim pesan, serta tak menggunakan kata-kata vulgar atau jorok.

Stockvault/Stuart Miles
Stockvault/Stuart Miles

“Kita harus selalu menyadari bahwa kita berinteraksi dengan manusia nyata di jaringan yang lain, bukan dengan sekedar deretan huruf di layar monitor. Namun, dengan karakter manusia yang sesungguhnya,” kata Putu Krisna.

Sekretaris Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Sulawesi Selatan, Andi Widya Syadzwina menyampaikan, di tengah maraknya perundungan siber di dunia digital tak lepas dari fenomena di masyarakat yang kurang peduli terhadap penggunaan internet yang sehat dan aman.

Hal itu disebabkan beberapa hal, seperti rendahnya kesadaran terhadap keamanan siber, kurang memahami dalam mengatur aplikasi, atau sistem keamanan dalam aplikasi tersebut kurang memadai.

Padahal, kata dia, ada sejumlah keuntungan menggunakan internet secara sehat dan aman. Mulai dari, privasi dan data pribadi menjadi terjaga, nyaman dalam mengakses informasi, berpotensi mendapat penghasilan tambahan, serta terhindar dari perilaku buruk di internet oleh pengguna lain.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Technology believer.. tech-society observer.. recovering digital addict

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image