Berkarya di Dunia Maya tanpa Plagiarisme

Digicafe  
Stockvault/Jack Moreh
Stockvault/Jack Moreh

Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2021 mengalami peningkatan. We Are Social mencatat, pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta pengguna, di mana 170 juta penggunanya menggunakan media sosial.

Sebagai respons perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital, Senin (11/7), secara daring. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada 2024.

Dalam webinar tersebut, Pembina Komunitas Anak Pecinta Literasi (Kancil) Hakim Syah mengungkapkan, teknologi media digital pada dasarnya bertujuan memberikan kemudahan dalam aktivitas keseharian masyarakat. Selain itu, kehadiran berbagai platform media sosial dan internet berdampak pada derasnya arus informasi.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Menurut dia, pembelajaran warga juga banyak yang berubah akibat perkembangan teknologi digital. Mulai dari, cara, materi, lingkungan, hingga budaya belajar. “Plagiarisme telah menjadi isu utama yang sedang dihadapi di dunia pendidikan. Upaya-upaya untuk mencegah plagiarisme dapat dilakukan dengan edukasi di semua jenjang pendidikan," ujar Hakim.

Seluruh institusi, ia melanjutkan, harus menganggap plagiarisme sebagai isu krusial. Termasuk juga, bagaimana menghindari plagiarisme dan meningkatkan kesadaran para pelajar.

Menurut Syarifah Ema Rahmania selaku Korwil Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Pontianak, salah satu tantangan dalam berbudaya di dunia digital ialah semakin maraknya kasus pelanggaran hak cipta dan karya intelektual. Menulis karya, kata dia, sejatinya memiliki kode etik yang ketat dan harus dipatuhi.

Misalnya, menghindari falsifikasi atau pemalsuan data, fabrikasi, plagiarisme, serta pelanggaran hak cipta lainnya. Bahkan, di kalangan akademisi terdapat ancaman hukuman yang berat bagi pelaku yang melakukan. “Oleh karena itu, kalau hendak membuat karya tulis ataupun opini, tidak bisa hanya asal buat, kita harus terlebih dahulu lakukan riset, analisa data, serta menentukan metode khusus dalam penulisannya," ujar Ema.

Ia menambahkan, dalam menulis juga perlu menjunjung tinggi etika, karena untuk menjaga validitas data. Termasuk juga melindungi hak cipta karya seseorang, serta sebagai bentuk kejujuran.

Stockvault/Jack Moreh
Stockvault/Jack Moreh

Ketua Bidang Kesekretariatan Relawan TIK Kalimantan Barat Rahmad Widyo Utomo pun memberikan tips agar karya ataupun tugas pelajaran pada media digital dapat terhindar dari plagiarisme. Yakni, dengan meningkatkan kesadaran diri untuk tidak mencontek dan melakukan plagiat, mencantumkan sumber kutipan, melakukan memparafrase atau mengubah susunan kalimat atau ide orang lain dengan kata-kata sendiri, dan memanfaatkan alat pemeriksa plagiarisme.

“Alat-alat untuk mengecek plagiarisme sangat banyak, di antaranya ada Unicheck, Turnitin, Quetext, dan Plagramme. Untuk menggunakannya, misalnya pada aplikasi Turnitin, silahkan unggah salah satu artikel yang telah dibuat, dan nanti akan muncul berapa persen plagiarisme yang dilakukan penulis,” jelasnya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Technology believer.. tech-society observer.. recovering digital addict

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image